Sabtu, 21 Januari 2012 - 12:08:06 WIB
Meraih Mimpi
Diposting oleh : Yohanna
Kategori: Cerpen - Dibaca: 591 kali

Meraih Mimpi

            “Pernah gak kamu punya impian, Riz? tapi mimpi itu belum tercapai?” tanya seseorang mahasiswa yang duduk disampingnya.

            “Hmm, pernah.” jawab Rizky kurang bersemangat.

            “Kok, kamu kelihatan lemas begitu?” tanya mahasiswa tadi yang bernama Udin.

            “Cita-citaku belum juga tercapai.” jawab Rizky dengan singkat.

            "Keinginan itu harus kamu wujudkan. Jangan gampang menyerah!” kata Udin.

            “Kira-kira apa yang kamu pikirin sekarang?” tanya Udin.

            “Aku sekarang ingin sekali menulis cerita pertamaku, kadang-kadang aku bingung bagaimana harus memulainya.” jawab Rizky.

            “Yakinlah, kamu pasti bisa. Seperti syair lagu Sea Games kemarin itu kita bisa, kita pasti bisa, kita akan raih bintang-bintang. Jangan ada kata malas.” tambah Udin sambil bercanda.

            “Bisa aja kamu Din. Hehe, oke deh aku akan berusaha untuk meraih mimpiku ini.”

            Perbincangan mereka melahap waktu dengan cepatnya. Akhirnya kereta api yang ditunggu-tunggu sudah datang setelah ditunda berjam-jam. Mereka kemudian mencari tempat duduk sesuai nomor tiket mereka. Tak disangka tempat duduk mereka berhadap-hadapan. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan lagi.

            Bel tanda berangkat sudah dibunyikan, kereta api segera melaju kencang.
    
    “Din, aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meraih mimpi, tapi tetap gagal.” kata Rizky dengan cemberut.
    
    “Tidak ada batasan untuk selalu berusaha selama masih ada kesempatan, lakukan saja!” bujuk Udin.
    “Kebetulan dalam waktu dekat ada kesempatan lagi untuk mewujudkan keinginan mendapat nilai 100 dari guru Bahasa Indonesia kita itu, ayo Riz, kamu pasti bisa.” tambah Udin. Rizky mengangguk tanda mengerti.

            Terlihat kertas Rizky masih putih bersih, belum ada coretan katapun yang ia tulis. Rizky memandangi luar jendela, bintang-bintang berkelap-kelip disinari bulan purnama. Pohon-pohon bergerak didorong angin, sehingga terlihat pohon-pohon menari dengan indahnya. Dia berpikir 'Apakah aku mampu menulis dengan baik?' Dia menganggap tidak mempunyai pikiran yang bagus.

    “Apa yang kira-kira cocok untuk aku tulis?” tanya Rizky.
    “Ya itu terserah pikiranmu.” Jawab Udin. Udin dari tadi tidak melepaskan pensil ditangannya, tangannya terus menghasilkan kata-kata yang indah. Rizky melihat gerak-gerik Udin yang pintar bercerita itu.Ternyata Udin hanya melihat luar jendela.Rizky berpikir 'Apa yang sebenarnya dia lihat?' Rizky juga mengikuti gerak-gerik Udin dengan melihat ke luar jendela. Tetapi dia masih bingung mau menulis apa untuk tugas Bahasa Indonesia. Memang guru Bahasa Indonesianya membuat kesepakatan bahwa jika mereka berhasil membuat cerita dan berhasil diterbitkan di media massa tersebut, mereka akan diberi nilai 100 tanpa mengikuti ulangan.

            Rizky memberanikan diri untuk bertanya kepada Udin tentang apa yang Udin lihat di luar jendela.
 
    “Din, apa yang kamu lihat di luar jendela?” tanya Rizky.
    “Ya hanya sebuah pemandangan sekitar.” jawab Udin singkat.
    “Apa yang kamu tulis sekarang?” tanya Rizky.
    “Cuma suasana yang terjadi di luar jendela.” jawab Udin untuk kedua kalinya.

            Ternyata dugaan Rizky benar, apa yang Udin lakukan selama melihat ke luar jendela yaitu hanya melihat lingkungan sekitar. Di pikiran Rizky sekarang muncul sebuah pemikiran dari pemandangan yang dia lihat tadi di luar jendela, bahwa pikiran itu bagaikan angin yang akan meniup pohon, pohon itu bagaikan tangan yang akan menulis cerita dengan indah.

            Waktu terus berjalan, Rizky semakin kebingungan dalam menulis. Kata guru Bahasa Indonesianya, menulis cerita awalnya dari pikiran di sekitar kita dulu, apa yang kita rasakan sekarang, itu bisa menjadi bahan untuk menulis. Rizky memikirkan keadaannya saat itu, 'Apakah cocok aku menulis ini? apakah cocok aku menulis itu?'

     Karena hari sudah malam, mereka mulai bersiap-siap untuk tidur. Mereka mulai menutup mata di atas gerbong kereta dan mulai membaca doa akan tidur. Tak lama Udin sudah terlihat tidur nyenyak karena sudah kelelahan menulis namun tidak bagi Rizky, di dalam pikirannya ada pertanyaan yang sulit dijawab, 'Cerita apa yang cocok aku tulis?' berulang-ulang dia memikirkan itu dengan mata tertutup. Sampai-sampai pada akhirnya dia tertidur.

     Matahari sudah muncul dengan cerahnya. Kira-kira satu jam lagi mereka akan sampai di Jakarta. Rizky membuka mata pelan-pelan, namun berat sekali rasanya. Setelah berhasil membuka mata dia heran melihat Udin yang sudah menulis walaupun masih pagi. Udin adalah orang yang tidak mudah putus asa.Rizky tidak mau kalah dengan Udin, dia mulai mendapat ide-ide yang cocok untuk diceritakan. Setelah melakukan sedikit pemikiran Rizkypun menemukan judul yang tepat yaitu “Menulis di Dalam Kereta Api”.

     Udin yang melihat ide Rizky itu merasa ikut senang. Kemudian dia meletakkan pensilnya untuk melihat Rizky menulis.
     
     “Wah, kamu sudah lumayan dalam menulis, pokoknya jangan mudah menyerah, harus bisa!” puji Udin. Rizky hanya tersenyum karena masih konsentrasi dengan ceritanya. Ini adalah hari pertama Rizky mulai menulis, oleh karena itu ini merupakan pengalaman paling berkesan bagi Rizky.

      Waktu kurang 15 menit untuk sampai ke salah satu stasiun di Jakarta. Tulisan cerita Udin sudah selesai. Sedangkan Rizky masih ketinggalan jauh, namun Rizky tetap semangat untuk menulis ceritanya.

       Akhirnya kereta sampai di stasiun yang dituju mereka. Mereka kemudian turun bersama.

      “Din, kamu pulang dulu saja, aku mau disini dulu.” Minta Rizky.

      “Loh, kenapa? Ayo pulang!” bujuk Udin

      “Aku mau menyelesaikan ceritaku ini dulu, Din. Kalau di rumah pasti aku sudah malas lagi, mending aku selesaikan dulu satu cerita ini dulu ya.” Kata Rizky

       Udin merasa terharu dengan sikap Rizky akhir-akhir ini menjadi semangat menulis.Hanya sebuah cerita saja, Rizky rela mengorbankan waktunya untuk itu. Udin merasa malu karena kurang mempunyai semangat seperti Rizky.

       “Koq kamu belum pulang, nanti ditunggu orang tuamu lho?” kata Rizky.

Udin kemudian berfikir “Sebaiknya aku menemani Rizky menulis atau langsung pulang ke rumah ya.” bingung Udin.Setelah dipertimbangkan, dia memutuskan untuk menemani Rizky menulis, dia kasihan meninggalkan Rizky sendirian.

“Riz, setelah aku pertimbangkan, lebih baik aku menemanimu disini aja, lagian kalau aku pulang mungkin orang tuaku sedang rapat kerja mingguan.” Kata Udin.

“Hmm, baiklah tidak apa-apa, aku malah senang.Hehehe.” jawab Rizky dengan senang.

“Itulah gunanya teman.” Tambah Udin.

Sekitar jam 10 pagi, cerita yang Rizky buat sudah selesai. Rizky merasa senang atas keberhasilannya menulis karya cerita pertamanya, begitu juga Udin, temannya. Kemudian mereka merundingkan kapan mereka mengirimkan cerita mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk mengirimkan karya ceritanya esok hari ke salah satu media massa di Jakarta.
“Din, aku sudah meraih mimpiku untuk menulis cerita pertama, sekarang aku mempunyai mimpi lagi semoga ceritaku dimuat di media massa, sehingga aku akan mendapat nilai 100 dari pak guru bahasa indonesia.”

“Wah, bagus Riz. Lanjutkan! Hehe.” jawab Udin dengan bercanda seperti perkataan SBY.

“Tapi apakah ceritaku bisa dimuat di media massa ya, pasti pengirimnya ada banyak banget. Lagian aku ini kan juga masih pemula.”

“Tetapi, kalau kamu optimis dan mau memperbaiki ceritamu dengan baik, pasti kamu bisa.” bujuk Udin.

“Akan aku usahakan semaksimal mungkin.” kata Rizky.

“Nah gitu, semoga cerita kita bisa dimuat di media massa ya.” harap Udin.

“Amiiin.” jawab Rizky.

“Oh ya Din, karena ceritaku sudah selesai yuk kita pulang!”

“Oke, let’s go!.”

Mereka kemudian berjalan bersama menuju halte bus di depan stasiun. Karena rumah mereka masih satu kampung jadi bus yang mereka tunggu juga sama. Merekapun masuk ke dalam halte itu.

“Oh ya Din, besok cerita kita dikirim jam berapa?” tanya Rizky.

“Gini aja Riz, besok kita kumpul di rumahku.Oke!” jawab Udin.

“Oke, jam berapa?” tanya Rizky.

“Hmm, jam 8 pagi aja!” jawab Udin.

“Baiklah.”

Akhirnya mereka sepakat untuk mengirimkan cerita mereka ke media massa besok sekitar jam 8 dengan berkumpul di rumah Udin dahulu.

Dari kejauhan sudah terlihat bus yang sudah mereka tunggu-tunggu.Tak lama, bus itu menghampiri mereka di halte.Mereka masuk dan mencari tempat duduk yang bersebelahan.Kemudian bus melaju meninggalkan halte.

Selama perjalanan, mereka mengamati pemandangan di luar jendela. Rizky berpikir bahwa dia sebaiknya menulis cerita tentang itu.Tadi Rizky menulis cerita dengan judul “Menulis di Dalam Kereta Api”, namun setelah dipertimbangkan dia ingin mengganti judul itu dengan “Menulis di Dalam Perjalanan”. Dia mengganti judul tersebut untuk memudahkannya menulis cerita, dia ingin bercerita tentang kehidupan sekitarnya di dalam perjalanan. Kemudian dia memperbaiki ceritanya di bus itu. Udin melihatnya, ternyata Rizky sudah mulai tidak putus asa lagi dalam menulis cerita.

Sekitar setengah jam kemudian, bus yang mereka naiki telah sampai di gang kecil menuju kampung mereka. Mereka kemudian turun bersama.Karena arah ke rumah mereka berbeda, jadi mereka mulai berpisah di pertigaan gang itu.

“Aku pulang dulu ya!” sapa Udin.

“Ya, sampai ketemu besok.” jawab Rizky.

Kemudian mereka berjalan sendiri-sendiri menuju rumah mereka masing-masing. Mereka ingin cepat sampai rumah, karena sudah kangen sama keluarga.

Udin pada saat tiba di rumah, dia langsung melepas kangen kepada keluarganya setelah lama tidak bertemu.Begitu juga dengan Rizky, dia pada saat tiba di rumah langsung melepas kangen kepada keluarganya yang selama ini jarang bertemu.Udin dan Rizky adalah mahasiswa di salah satu Universitas di Jawa Tengah, oleh karena itu mereka tinggal di kost. Tempat kost mereka juga sama, jadi mereka sering sekali bertemu langsung.

Pada hari itu Rizky mulai memperbaiki ceritanya. Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam, cerita Rizky sudah selesai dan siap untuk dikirim besok. Dia sudah pasrah besok, apabila ceritanya gagal dimuat di media massa, dia sudah senang karena sudah berhasil membuat cerita pertamanya.

Burung-burung sudah berkicau, ayam-ayam jantan sudah berkokok bersahutan.Mataharipun tidak kalah, dia sudah mulai menunjukkan keindahannya.

Rizky dan Udin mulai mempersiapkan diri untuk mengirimkan cerita ke media massa, sebelum berangkat mereka berdoa supaya cerita mereka berhasil dimuat dan agar diberi nilai 100 oleh guru bahasa indonesianya.

Setelah Rizky siap, dia langsung menuju ke rumah Udin dengan berjalan kaki. Akhirnya, sampailah dia di depan rumah Udin.

“Udin… Udin…!” panggil Rizky di depan rumah Udin.

“Oh ya, tunggu sebentar.!” Teriak Udin dari dalam rumahnya sambil mempersiapkan diri.

“Cepat Din!” minta Rizky.

“Bentar!”

Setelah Rizky menunggu Udin lumayan lama, Udin kemudian menemui Rizky di luar rumah.

“Katanya jam 8, koq malah molor?” Rizky mengernyitkan dahinya.

“Sory Riz, aku bangun kesiangan, jadi terlambat persiapan tadi.

“Ya udah, ayo langsung berangkat aja.” minta Rizky.

“Ayo.” kata Udin.

Mereka kemudian mulai berangkat ke kantor media massa untuk mengirimkan cerita mereka. Mereka berjalan sekitar 30 menit. Akirnya sampai juga di kantor media massa, kemudian mereka masuk dan menyerahkan hasil ceritanya ke media massa tersebut.

“Mbak, ini saya mau mengirimkan cerita.” kata Udin dan Rizky.

“Oh, silakan!” kata perempuan bagian tulisan sambil menerima amplop berisi cerita dari mereka berdua.

“Cerita kalian akan dimuat di edisi antara 145 sampai 150 jika tulisan kalian bagus, jika tulisan kalian tidak dimuat berarti kalian belum beruntung, tetapi jangan menyerah untuk menulis lagi.” tambah perempuan bagian tulisan itu.

“Oke mbak.” kata mereka berdua.

“Semoga cerita kita dimuat ya Riz.” harap Udin.

“Iya, aku juga berharap seperti itu.”

“Aku pulang dulu Din.” kata Rizky.
“Sama-sama, aku juga sampai ketemu lagi.” kata Udin.

Mereka kemudian berjalan pulang menuju rumah mereka masing-masing, seperti biasa mereka berpisah di pertigaan gang yang memisah rumah mereka.

Selama masa proses pemuatan cerita ke media massa. Mereka aktif membeli media massa tersebut pada edisi yang telah diberitahukan perempuan bagian tulisan yaitu edisi antara 145 sampai 150. Kadang-kadang untuk menghemat pengeluaran, mereka bergantian membeli media massa tersebut.

Edisi 146 sampai 147 sudah terlewat, sekarang waktunya menuju edisi ke 148.Pada saat edisi 148 telah mereka beli, mereka kemudian segera melihat siapa yang dimuat ceritanya.Tiba-tiba cerita Udin berhasil dimuat.Ini merupakan suatu kenangan terindah bagi Udin.

“Wow, horeee ceritaku dimuat.” teriak Udin senang.

“Wah, selamat ya.Ceritaku berhasil dimuat nggak ya?”Rizky cemberut.

“Makasih ya.Kan masih ada satu edisi lagi.”

“Iya, tapi aku kurang percaya.”

“Lihat dulu aja besok, jangan cemberut dulu, nanti cepat tua lho.Hehehe.” bujuk Udin.

“Iya deh.”

Edisi 149 adalah edisi yang paling ditunggu-tunggu Rizky.Apakah cerita Rizky berhasil dimuat?

Setelah lama menunggu Rizky kemudian segera membeli media massa tersebut, Rizky semangat sekali pagi ini, meskipun orang-orang masih bermalas-malasan, tetapi Rizky sudah siap untuk pergi ke penjualan media massa tersebut.

Setelah membeli, Rizky langsung segera pulang dengan berlari. Terlihat, Risky sudah tidak sabar segera membuka media massa itu.

Dibukanya media massa itu bersama Udin, temannya.

“Oh tidak, mimpiku mendapat nilai 100 gagal karena ceritaku tidak dimuat.”Rizky sedih dan kecewa.

“Sudahlah, aku juga turut bersedih, masih ada banyak kesempatan lagi Riz, kamu pasti bisa dengan berlatih menulis terus.” bujuk Udin.

Kemudian Rizky mau menerima keadaanya saat ini karena bujukan Udin, Rizky akan mulai berlatih menulis dari sekarang. Kedepannya Rizky berharap menjadi baik.

“Eh iya Riz, banyak sekali sosok penulis yang mengalami kegagalan, dia tidak menyerah, akhirnya penulis itu menjadi terkenal karena kerja kerasnya.” tambah Udin.

“Terima kasih sudah menyemangati aku.” kata Rizky.

“Oke, sama-sama itulah gunanya kita berteman.” kata Udin.

“Waduh, aku lupa belum mengambil honorku. Aku akan pulang dulu ya Riz untuk mengambil kartu identitas dan surat-surat penting lainnya untuk mengambil honorku. Sampai ketemu lagi.” kata Udin yang segera berlari ke rumahnya.

“Ya, sampai ketemu lagi.”

Udin semangat sekali untuk mengambil honor ceritanya, dia menuju rumahnya dahulu untuk mengambil kartu identitas dan surat-surat penting lainnya. Setelah itu baru dia pergi ke media massa dengan berlari karena semangat sekali dia untuk mengambil honor.

“Mbak, saya mau mengambil honor saya karena cerita saya sudah dimuat.”

“Nama mas siapa?” tanya perempuan bagian tulisan.

“Saya Udin.”

Perempuan tadi langsung mengecek nama Udin di komputernya. “Oh iya, nama mas ada disini, mas punya kartu identitas dan surat-surat lainnya?”

“Oh ada, ini identitasnya.” kata Udin sambil menyerahkan identitasnya kepada perempuan tadi.

Perempuan tadi segera mengecek identitas Udin, beserta surat-surat pendukung lainnya.

“Selamat ya, tetap terus menulis, ini honormu.” kata perempuan tadi sambil menyerahkan amplop berisi honor,

Perasaan Udin berbunga-bunga, Udin segera pergi ke rumah Rizky.Setelah berlari, kemudian tibalah Udin di rumah Rizky.

“Rizky… Rizky….” panggil Udin yang menunggu di depan pintu rumah Rizky.

“Sebentar!”

“Eh Udin, ada apa?” tanya Rizky.

“Cuma mau main disini aja koq.” jawab Udin.

“Loh, kamu koq keringetan, aku ambilkan minum dulu ya?Habis dari mana sih?”

“Habis ngambil honor menulisku tadi. Eh nggak usah Riz, aku bisa minum di rumah.”

Rizky langsung pergi ke dapur untuk membuat minum, tanpa menurut perintah Udin.

“Eh Riz, nggak usah minum aku!” teriak Udin sambil malu-malu.

Rizky tetap berangkat ke dapur. Tidak memerlukan waktu lama, Rizky kemudian keluar dengan membawa secangkir lemon tea segar.

“Wah, terima kasih Riz.”

“Iya, sama-sama.”

“Oh iya, ini aku menyisihkan sedikit honorku untuk kamu, terimalah!” minta Udin.

Nggak usah, itu kan kerja kerasmu, aku nggak berhak.”

“Tidak apa-apa ini honornya.” kata Udin sambil menyerahkan sebagian honornya untuk Rizky.

Setelah bujukan dari Udin, Rizky kemudian mau menerima honor pemberian Udin tersebut.

“Terima kasih banyak, aku sangat beruntung punya teman seperti kamu.”

“Ya, sama-sama.”

Akhirnya Rizky sudah pasrah karena dia gagal memperoleh nilai 100 karena ceritanya gagal dimuat di media massa, namun dia berhasil membuat cerita pertamanya. Meskipun ceritanya agak masih kaku, tetapi dia tetap senang atas karyanya sendiri.

“Riz, aku mau pulang dulu.”

“Ya., kapan-kapan mampir kesini lagi ya!”

“Siap pak.Hehehe.”

Di rumah, orang tua Udin sangat bangga karena mempunyai anak yang suka menulis dan berhasil mendapat honor.Udin kemudian sudah tidak sabar pulang ke kampus, untuk memberitahukan itu kepada gurunya agar mendapat nilai 100 ulangannya.

Sedangkan Rizky, dia sangat bersyukur atas keadaannya saat itu, dia ingin memperbaiki diri. Orang tuanya sangat mendukung Rizky dalam menulis cerita, mereka berharap Rizky menjadi orang yang berguna bagi semuanya. Udin dan kedua orang tuanya merelakan kejadian mengecewakan itu, semakin hari semakin dilupakan.

Tidak terasa hari meninggalkan Jakarta sudah tiba. Mereka siap pulang kost mereka untuk mulai sekolah lagi.Mereka berpamitan kepada orang tua mereka terutama, beserta orang-orang yang ada di sekitarnya.Hari yang mengharukan telah tiba, tetapi ini merupakan suatu keharusan agar bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, tidak lupa juga agar mereka bisa bermanfaat di agama.
 
ditulis oleh: Abdurrahman  Ahmad
~Peserta Kontes Menggapai Mimpi Young Writer Club



24 Komentar :

akbar renaldy
23 Februari 2012 - 17:39:08 WIB

aku mau nulis cerita juga boleh nggak?
top toys for Christmas 2013
07 Desember 2013 - 07:34:47 WIB

Bravo. Semoga website ini makin jaya.
www.suomi-kasino.biz
23 September 2014 - 23:58:21 WIB


I know this if off topic but I'm looking into starting my own blog and was wondering what all is required to get setup? I'm assuming having a blog like yours would cost a pretty penny? I'm not very web smart so I'm not 100% certain. Any recommendations or advice would be greatly appreciated. Cheers
http://norsk-kasino.com/
24 September 2014 - 12:58:41 WIB


We are a group of volunteers and starting a new scheme in our community. Your website provided us with valuable information to work on. You have done an impressive job and our entire community will be thankful to you.
Maisto papildai
26 September 2014 - 07:41:25 WIB

Hey I know this is off topic but I was wondering if you knew of any widgets I could add to my blog that automatically tweet my newest twitter updates. I've been looking for a plug-in like this for quite some time and was hoping maybe you would have some experience with something like this. Please let me know if you run into anything. I truly enjoy reading your blog and I look forward to your new updates.


tłumaczenia bydgoszcz
26 September 2014 - 15:04:51 WIB

Hey there! I just found your webpage when I was browsing digg.com. It looks as though someone enjoyed your website so much they decided to bookmark it. I'll undoubtedly be returning here more often.
. Read my website: http://tlumaczenia-bydgoszcz.com

tłumaczenia techniczne bydgoszcz
26 September 2014 - 15:05:59 WIB

With havin so much content and articles do you ever run into any problems of plagorism or copyright infringement? My website has a lot of unique content I've either written myself or outsourced but it seems a lot of it is popping it up all over the internet without my permission. Do you know any methods to help stop content from being ripped off? I'd definitely appreciate it.
. Read my website: http://tlumaczenia-bydgoszcz.com

noclegi pracownicze bydgoszcz
30 September 2014 - 10:41:04 WIB

Hey I know this is off topic but I was wondering if you knew of any widgets I could add to my blog that automatically tweet my newest twitter updates. I've been looking for a plug-in like this for quite some time and was hoping maybe you would have some experience with something like this. Please let me know if you run into anything. I truly enjoy reading your blog and I look forward to your new updates.


nocleg bydgoszcz
08 Oktober 2014 - 23:06:42 WIB

I am wondering which blogging and site-building platform you're using? I'm new to blogging and have been thinking about using the Quizilla platform. Do you think this is a good platform to start with? I would be extremely thankful if I could ask you some questions through email so I can learn a bit more before getting started. When you have some free time, please make sure to contact me . Appreciate it
. Read my website:
http://kulturistikadoplnky.cz

integratori online
09 Oktober 2014 - 00:30:48 WIB


Hi, i read your blog occasionally and i own a similar one and i was just curious if you get a lot of spam responses? If so how do you protect against it, any plugin or anything you can suggest? I get so much lately it's driving me insane so any assistance is very much appreciated.. Read my website:
http://nutritionmusculation.eu

<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)